Maghrib belum tiba. Aku baru saja pulang dari Bogor usai acara Dauroh. Sesampai di rumah, kulihat seisi rumah sepi. Hari ini hari ahad di awal bulan, pasti seisi rumah sedang pergi arisan keluarga di salah satu rumah sanak keluargaku. Sepi rasanya rumah ini. Aku segera melepas lelah di tempat favoritku, kamar.
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 13 Februari 2010
Pengamen pembawa hikmah Oleh Aismawati
Deborah yang aku tumpangi malam itu tidak terlalu penuh, tetapi tidak kosong. Semua kursi sudah terisi. Aku adalah penumpang terakhir yang mendapatkan kursi kosong. Ini adalah yang kedua kalinya aku menjumpai anak itu. Seorang bocah pengamen tanpa alat musik apapun, termasuk tepukan tangan. Kira-kira berusia 10 tahun.
Aku senang memandanginya, dia tidak seperti anak-anak jalanan kebanyakan. Kotor, bau, dan menyanyi seadanya. Ada hal unik dalam dirinya, pakaiannya bersih, memakai sandal, rambutnya jatuh tidak klimis, dan kuku tangan dan kakinya pun bersih. Seperti anak rumahan. Ibunya sungguh merawatnya, pikir ku malam itu.
Aku senang memandanginya, dia tidak seperti anak-anak jalanan kebanyakan. Kotor, bau, dan menyanyi seadanya. Ada hal unik dalam dirinya, pakaiannya bersih, memakai sandal, rambutnya jatuh tidak klimis, dan kuku tangan dan kakinya pun bersih. Seperti anak rumahan. Ibunya sungguh merawatnya, pikir ku malam itu.
Ayah, Jadilah Sahabatku oleh Raya Fitrah
Saya selalu senang mendengar cerita teman-teman saya tentang keluarga mereka. Ibu-ibu bercerita tentang anak-anak, tentang suami mereka, mertua atau tetanggga mereka. Tidak untuk menggosip atau membuka aib, tetapi untuk menyerap ilmu dan pengalaman berharga yang telah mereka alami tapi belum pernah saya rasakan.
Dari berbagai topik obrolan, yang paling menarik menurut saya adalah cerita keluarga dari sudut pandang seorang ayah.
Ada salah satu obrolan yang sangat berkesan buat saya, ketika seorang teman saya, sebut saja Pak Abi, ia bercerita tentang anak lelakinya yang sekarang sudah sekolah TK.
Dari berbagai topik obrolan, yang paling menarik menurut saya adalah cerita keluarga dari sudut pandang seorang ayah.
Ada salah satu obrolan yang sangat berkesan buat saya, ketika seorang teman saya, sebut saja Pak Abi, ia bercerita tentang anak lelakinya yang sekarang sudah sekolah TK.
Kereta Syurga oleh :Meti Herawati
Kendaraan pribadi merupakan pelengkap kehidupan yang menunjang aktifitas. Bahkan Rosululloh sendiri menyampaikan salah satu yang mengindikasikan kebahagian hidup seseorang adalah dengan dimilikinya kendaraan. Tapi memiliki kendaraan pribadi apalagi mobil bukanlah perkara gampang untuk ukuran masyarakat Kita, karena harganya yang sangat mahal dan daya kemampuan ekonomi yang rendah.
Sehingga wajar kalau kendaraan umum di Negara Kita paling lengkap sedunia, bayangkan saja dari mulai delman, ojek, angkot, bemo, bis dan lain sebagainya ada di negeri Kita. Namun tidak demikian bagi rakyat negeri jiran Malaysia, mereka sangat mudah untuk memiliki mobil (disebut kereta) bahkan keluaran terbaru sekali pun.
Sehingga wajar kalau kendaraan umum di Negara Kita paling lengkap sedunia, bayangkan saja dari mulai delman, ojek, angkot, bemo, bis dan lain sebagainya ada di negeri Kita. Namun tidak demikian bagi rakyat negeri jiran Malaysia, mereka sangat mudah untuk memiliki mobil (disebut kereta) bahkan keluaran terbaru sekali pun.
MERASA DIRI PALING MERANA
Tersebutlah kisah nyata seorang kaya raya berkebangsaan Saudi bernama Ra'fat. Ia diwawancarai setelah ia berhasil sembuh dari penyakit liver akut yang ia idap. Pola hidup berlebihan dan mengkonsumsi makanan tak beraturan membuat Ra'fat mengalami penyakit di atas.
Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.
Ra'fat berobat untuk mencari kesembuhan. Banyak dokter dan rumah sakit ia kunjungi di Saudi Arabia sebagai ikhtiar. Namun meski sudah menyita banyak waktu, tenaga, pikiran dan biaya, sayangnya penyakit itu tidak kunjung sembuh juga. Ra'fat mulai mengeluh. Badannya bertambah kurus. Tak ubahnya seperti seorang pesakitan.
Langganan:
Postingan (Atom)